‘Tak Akan Ada Yang Sempat Berkedip’ – Allycia Hellen Rodrigues Siap Jalani Duel Bersejarah Lawan Phetjeeja
Juara Dunia ONE Women’s Atomweight Muay Thai, Allycia Hellen Rodrigues, membangun dominasinya lewat penampilan-penampilan mengesankan.
Namun pertahanan gelar kelimanya melawan Juara Dunia ONE Women’s Atomweight Kickboxing, “The Queen” Phetjeeja Lukjaoporongtom, diprediksi akan menjadi yang paling monumental.
Salah satu super-fight paling dinanti dalam sejarah striking wanita ini akan menjadi laga utama ONE Fight Night 41 yang tayang live di jam primetime Amerika Serikat dari Lumpinee Stadium, Bangkok, pada Sabtu, 14 Maret, waktu Indonesia.
Pertarungan ini sejatinya telah lama dinantikan.
Jauh sebelum berbagi panggung global, nama besar Phetjeeja sudah lebih dulu sampai ke telinga Rodrigues di Fortaleza, Brasil. Ia terpikat oleh atlet fenomenal dari Thailand yang dijuluki “Perempuan Yang Bisa Mengalahkan Lelaki” ini.
Saat keduanya akhirnya bergabung di ONE Championship, kekaguman itu berubah menjadi ambisi besar untuk menguji diri melawan sosok yang oleh banyak pengamat Muay Thai dianggap sebagai yang terbaik.
Rodrigues mengatakan kepada onefc.com:
“Saya sudah mengenal Phetjeeja sejak sebelum saya pindah ke Thailand, saat dia masih bertarung melawan anak laki-laki. Dia adalah petarung dengan gaya yang sangat saya sukai. Saya sudah lama mengikuti kariernya.
“Saya selalu tahu kesempatan ini akan datang. Dan sekarang momen itu tiba, dan ini adalah salah satu pertarungan terbesar dalam karier saya. Saya sangat bersemangat.”
Meski rasa hormat itu tak pernah hilang, keduanya menempuh jalur masing-masing.
Setelah meraih kontrak bernilai miliaran rupiah di ONE Friday Fights pada Mei 2023, Phetjeeja bertransisi mulus ke kickboxing. Ia mengalahkan legenda Anissa Meksen untuk merebut Gelar Dunia ONE Interim Women’s Atomweight Kickboxing pada Desember 2023, lalu menundukkan Janet “JT” Todd tiga bulan kemudian untuk menyatukan sabuk tersebut.
Sejak itu, ia terus menumbangkan nama-nama besar dan membawa rekornya menjadi 210-6, serta tetap tak terkalahkan selama berkiprah di ONE.
Sementara itu, Rodrigues tetap menjadi penguasa di “seni delapan tungkai.”
Seperti Phetjeeja, ia juga mengalahkan Todd pada Maret 2023 untuk menyatukan Gelar Dunia ONE Women’s Atomweight Muay Thai. Sejak saat itu, penampilannya semakin solid di setiap pertahanan gelar, termasuk mencetak knockout atas Marie McManamon dan Johanna Persson.
Kini, Rodrigues berada di puncak performanya dan menyambut tantangan terbesar dalam kariernya. Ia akhirnya mendapat kesempatan menguji kemampuan elitnya melawan talenta generasi baru yang selama ini ia amati dari dekat.
Petarung Phuket Fight Club itu berkata:
“Saat dia menantang saya, saya tidak terkejut karena itu bukan pertama kalinya dia melakukannya. Kami selalu siap. Saya hanya menunggu momen ini terjadi.
“Ini pertarungan yang sudah lama ingin dilihat semua orang. Bagi saya, ini sebuah kehormatan dan kebanggaan pribadi untuk menghadapi yang terbaik. Ini bukan pertama kalinya saya melawan juara. Saya harap dia juga siap, karena ini akan menjadi perang.”
Rodrigues paham betul tantangan yang menantinya – seorang petarung dengan 210 kemenangan, pengalaman panjang, dan ambisi menjadi Juara Dunia ONE dalam dua disiplin striking.
Rekam jejak tersebut mungkin mengintimidasi banyak atlet, tetapi tidak bagi petarung Brasil itu.
Di usia 27 tahun, Rodrigues yakin pada kemampuannya dan merasa semakin kuat setiap kali naik ring. Ia juga belum pernah kalah saat bertanding di bulan perayaan Hari Perempuan Internasional, sehingga momentum ada di pihaknya.
Ia menambahkan:
“Saya bisa menjamin ini akan menjadi salah satu pertarungan wanita terbesar tahun ini. Dan karena gaya kami, ini juga akan menjadi pertarungan yang sangat intens. Pertarungan di mana tidak akan ada yang sempat berkedip.”
Rodrigues Ungkap Kunci Kemenangan Atas Phetjeeja
Karena telah lama mengikuti karier Phetjeeja Lukjaoporongtom, Allycia Hellen Rodrigues tahu persis bagaimana “The Queen” bertarung.
Sejak bersinar di kickboxing, gaya petarung Thailand itu lebih banyak bertumpu pada tinju dan mengurangi eksplorasi arsenal penuh Muay Thai. Bahkan saat kembali ke Muay Thai di ONE Fight Night 38 pada Desember lalu dengan menghancurkan Martyna Dominczak di ronde pertama, pola tersebut masih terlihat.
Tak heran, Rodrigues merasa telah menemukan celah:
“Keunggulan yang saya miliki atas Phetjeeja menurut saya terutama di permainan clinch. Itu selalu menjadi pembeda dalam pertarungan saya.
“Dia tidak terlalu suka bermain clinch. Saya tidak tahu apakah karena dia lebih sering bertarung di kickboxing. Tapi bahkan di Muay Thai, saya melihat dia tidak banyak menggunakan clinch. Jadi saya percaya itu adalah titik lemahnya.”
Meski begitu, mendekat untuk masuk ke jarak clinch bukan perkara mudah.
Kecepatan tangan elit, kombinasi memukau, dan footwork tajam milik Phetjeeja akan membuat setiap langkah ke depan harus diperjuangkan.
Rodrigues sadar bahwa ia akan menjalani ujian berat. Namun semakin besar tantangan, semakin besar pula hadiahnya. Kemenangan di laga ini bisa mengukuhkan warisannya sebagai salah satu striker wanita terbaik sepanjang masa.
Petarung Brasil itu menutup:
“Saya percaya pertarungan ini 50-50. Bisa mengarah ke siapa saja. Ini sama berbahayanya bagi saya maupun baginya.
“Saya hanya ingin menampilkan pertarungan yang bagus dan memberikan tontonan terbaik untuk para penggemar, yang saya yakin akan datang dari kedua sisi. Tapi saya percaya sebagian besar ronde akan berlangsung dalam pertarungan terbuka.”