Fitur

Alma Juniku Ingin Memberi Inspirasi Untuk Para Wanita Muda

9 Juni 2019

Alma Juniku telah menjadi seorang Juara Dunia Muay Thai dan panutan bagi banyak orang bahkan saat ia baru saja menginjak usia 18 tahun, dimana sinarnya akan menjadi lebih terang jika mampu merebut tempat teratas dalam olahraga tersebut pekan depan.

Pada hari Sabtu, 15 Juni, atlet asal Australia ini akan menghadapi tantangan terberatnya melawan Juara Dunia Muay Thai ONE Atomweight Stamp Fairfex demi sabuk emas dalam ajang ONE: LEGENDARY QUEST.

Selagi remaja sensasional ini mempersiapkan pertandingannya di Baoshan Arena di Shanghai, China, ia merenungkan perjalanannya untuk meraih sabuk emas. Faktanya, ia melewati berbagai keraguan dan ejekan untuk dapat mencapai titik karirnya saat ini.

Saat ia memulai pelatihan Muay Thai-nya, teman sekolahnya menjadikan Alma sebagai target karena olahraga yang ia pilih.

“[Kakak perempuan saya dan saya] tidak tahu apakah ini adalah olahraga untuk perempuan, tetapi kami tetap mencoba dan itu sangat menyenangkan. Semenjak itu, kamipun jatuh cinta,” jelasnya.

“Di sekolah, saya diejek dan dirundung [karena berlatih Muay Thai]. Pada satu titik, saya merasa sangat malu karena saya berpikir semua orang mentertawakan hal itu. Saya sangat bersemangat tentang hal itu dan mereka tidak menganggapnya serius.”

Tetapi, Alma tidak lalu tunduk pada tekanan dari teman-temannya. Mereka justru hanya menguatkan keputusannya.

Pemudi ini ingin membuktikan bahwa mereka salah, maka ia mengambil komitmen untuk mendalami “seni delapan tungkai” sampai mereka tidak dapat menyangkal kesuksesannya.

Kini, saat ia berkompetisi dalam organisasi bela diri terbesar di dunia, atlet asal Australia ini ingin menjadi pemberi harapan bagi generasi muda lainnya — terutama para gadis muda — yang mengalami pengalaman serupa terkait pilihan-pilihan mereka.

“Ini yang memotivasi diri saya untuk melakukan sesuatu — karena mereka yang berpikir bahwa saya tidak cukup baik, atau mereka yang berpikir dapat mengatakan apa saja setiap kali saya lewat,” ungkap atlet kelahiran Logan City ini.

“Saya menyadari bahwa dalam jangka panjang saya akan meraih kesuksesan, jadi jika saya diejek saat bertarung dan berlatih, [hal ini] tentunya mendorong saya menjadi lebih baik dan membuktikan bahwa mereka salah.”

Alma mendapatkan kekuatan dan inspirasi dari para petarung wanita lainnya dalam olahraga ini.

Salah satu perempuan tersebut adalah rekan senegaranya, Caley Reece, seorang Juara Dunia Muay Thai yang pernah mengalahkan Tiffany van Soest dan merebut gelar Juara Dunia Lion Fight Women’s Featherweight.

Alma kecil mengikuti bagaimana pahlawan lokal ini bersinar dan melihatnya sebagai panutan yang sempurna.

“Saat saya masih sangat muda, panutan saya adalah Caley Reece sebagai seorang  fighter,” jelas sang penantang gelar Juara Dunia ONE ini. “Ia berkali-kali menjadi Juara Dunia dan memiliki sasananya sendiri, jadi saya sangat ingin menjadi seperti dirinya.”

Dalam banyak hal, Alma telah menyerupai idolanya dalam dunia Muay Thai.

Sebagai Juara Dunia Muay Thai WBC dan IPCC, Alma menjadi salah satu dari atlet wanita yang memimpin dalam olahraga ini dan menemukan dirinya memberi motivasi bagi generasi atlet bela diri wanita berikutnya.

“Saya bertemu dengan seorang gadis kecil bernama Imogen yang baru berusia sembilan tahun. Ayahnya membawanya berlatih bersama dengan saya. Mereka menempuh satu jam perjalanan, dan ia mengatakan bahwa ia menjadikan saya panutannya,” kenang Alma.

“Dia juga menulis surat untuk saya. Hal ini sangatlah manis, dan ini membuat saya merasa senang melihat apa yang saya lakukan mendorongnya untuk menjadi seorang petarung yang baik.”

“Saya sangat senang dapat memberikan inspirasi bagi para wanita muda untuk mengejar cita-cita mereka.”

Setelah menghadapi berbagai ejekan di sekolah karena berlatih Muay Thai, atlet asal Australia ini mengetahui betapa pentingnya memiliki panutan yang dapat menjadi contoh.

Bagi para pemudi muda yang tidak ingin menjadi stereotype karena kecintaan mereka pada olahraga tertentu, memiliki Alma sebagai panutan tentu dapat membantu mereka merasa nyaman dengan diri mereka sendiri.

“Saya menjalani olahraga maskulin, tetapi saya ingin mereka melihat bahwa saya tetap manis dan feminin,” jelasnya.

“Saya ingin semua orang, terutama para wanita, untuk mengetahui bahwa mereka dapat melakukan olahraga yang sulit dan tetap memiliki sisi feminin, serta bahwa mereka tidak dilihat dan dinilai lebih maskulin.”

“Saya berharap dapat menginspirasi para wanita muda untuk mengejar cita-cita mereka. Baik itu bertarung, atau apapun yang mereka inginkan, just go for it.”