5 Sorotan Penting Dari ONE 173: Superbon Vs. Noiri

Yuki Yoza Superlek ONE 173 18 scaled

ONE 173: Superbon vs. Noiri menyajikan sebuah malam penuh magis seni bela diri di Tokyo, dengan empat laga Kejuaraan Dunia, pertunjukan striking level atas, serta finis spektakuler dalam MMA. Atmosfer yang menyengat di Ariake Arena menjadi alasan kuat mengapa Jepang adalah rumah bagi olahraga kombat.

Di sepanjang gelaran, Juara Dunia berhasil menjaga gelar secara meyakinkan, sementara kontender semakin unjuk gigi yang bisa berakibat pada perubahan besar di beberapa divisi. Beberapa atlet semakin mengukuhkan posisi mereka, sementara yang lainnya menunjukkan bahwa mereka adalah ancaman di pentas global.

Ajang ini menjawab beberapa pertanyaan penting terkait siapa jagoan terbaik, serta memunculkan nama-anam baru yang layak jadi kontestan Juara Dunia.

Berikut adalah lime sorotan besar dari ONE 173.

#1 Superbon Bungkam Semua Keraguan Dalam Laga Kontra Noiri

Superbon tiba di Tokyo dengan berbagai skeptisme yang mengelilinginya – sebuah situasi langka bagi salah satu kickboxer paling berprestasi abad ini. Hal itu didasarkan pada skema matematis karena ia akan menghadapi Masaaki Noiri, nama yang bisa memberi kekalahan TKO pada Tawanchai PK Saenchai di ONE 172. Di sisi lain, Tawanchai adalah orang yang bisa mengalahkan Superbon pada Januari lalu.

Alih-alih tunduk pada hitungan matematis, Superbon berhasil menjawab tantangan dengan cara yang meyakinkan.

Ia berhasil mengungguli sang jawara interim dari Jepang demi menjaga sabuk Juara Dunia ONE Featherweight Kickboxing dan menjadi raja sejati di divisinya. Yang lebih istimewa, Superbon seperti mampu mengantisipasi setiap serangan lawannya dan membalas dengan caranya sendiri.

Kemenangan ini menjadi pesan jelas bahwa siapapun yang ingin berada di puncak divisi featherweight kickboxing harus terlebih dahulu melampauinya.

#2 Nadaka Umumkan Diri Sebagai Jagoan Hebat Generasi Ini

Ada kala di mana seorang petarung berlaga dalam partai Kejuaraan Dunia bukan hanya tampil untuk memenangi gelar, tetapi menunjukkan bahwa ia adalah calon penguasa selama satu dekade ke depan. Hal ini yang ditunjukkan Nadaka saat ia meraih sabuk Juara Dunia ONE Atomweight Muay Thai perdana.

Sang jagoan dari Jepang berhasil mematahkan setiap serangan Numsurin Chor Ketwina untuk menguasai laga selama lima ronde. Gaya bertahan ciamik serta pemilihan serangan yang matang menunjukkan kedewasaan seorang petarung senior. Padahal, ia baru menginjak usia 24 tahun.

Yang lebih istimewa, kemenangan ini membuat catatan kemenangan beruntunnya menjadi 40 yang ia bangun sejak enam tahun lalu. Skil serta keahliannya menunjukkan bahwa ia tak hanya bertarung dalam divisi ini, tapi menentukan peta persaingan serta jadi standar bagi siapapun yang ingin berkuasa.

#3 Juara Dunia MMA Tunjukkan Kemampuan Finis Elite

Dua laga Kejuaraan Dunia MMA berakhir dengan cara yang identik. Bukan hanya kebetulan, tetapi karena Yuya “Little Piranha” Wakamatsu dan Christian “The Warrior” Lee memiliki kesamaan sebagai Juara Dunia. Mereka tahu kapan dan bagaimana mengambil keputusan yang tepat.

ONE 173 menunjukkan perbedaan antara seorang pemegang sabuk dengan kontestan yang coba mengejar mereka. Wakamatsu, sang Juara Dunia ONE Flyweight MMA, bangkit dari pukulan keras raja strawweight Joshua “The Passion” Pacio dan membalikkan keadaan di ronde kedua. Setelah melukai Pacio dengan serangannya, ia segera memperpendek jarak dan bertransisi ke bawah hingga membukakan ruang baginya untuk melayangkan serangan-serangan lutut tajam.

Lee, Juara Dunia dua divisi MMA, berhasil membuktikan kelasnya saat menjaga sabuk lightweight kontra Alibeg Rasulov. Setelah berhasil mencegah takedown khas dari sang petarung Dagestan, atlet Amerika-Singapura ini segera beralih menuju mode penghabisan dan mengancam lewat kunciannya.

Setelah melihat ada peluang finis yang lebih besar, Lee langsung mengancam lewat terjangan lututnya yang membuat lawannya tak berdaya.

Kedua raja ini berhasil mengatasi kesulitan dan bangkit lewat cara mereka masing-masing. Tak ayal, performa mereka pun dianugerahi dengan bonus masing-masing senilai US$50.000 (sekitar Rp800 juta).

#4 Yoza Makin Tak Terbendung Lewat Kemenangan Atas Superlek

Yuki Yoza berhasil mengubah seluruh peta persaingan bantamweight kickboxing setelah menampilkan peforma ciamik kontra penghuni peringkat #5 divisi serta Juara Dunia ONE Flyweight Kickboxing, “The Kicking Machine” Superlek.

Ada perbedaan mendasar antara mengalahkan petarung hebat saat ia tak dalam kondisi terbaik dengan mendominasi lawan terkait selama tiga ronde. Yoza bukan hanya mengalahkan Superlek, tapi menggugurkan setiap serangan sang lawan dan mendikte jalannya laga.

Dengan catatan 13 kemenangan beruntun termasuk atas Elbrus “The Samurai” Osmanov dan mantan penguasa divisi Petchtanong Petchfergus, resume yang dimiliki Yoza semakin memesona.

Kini, mungkin ia sudah diambang pintu menuju laga Kejuaraan Dunia.

#5 Anane Buktikan Dominasi Dua Olahraga Ada Dalam Jangkauan

Nabil Anane datang menuju debut featherweight kickboxing dengan segudang harapan, namun ia berhasil mengemban semuanya dengan cukup baik. Ambisinya untuk menjadi raja dalam dua olahraga seperti bukan sesumbar belaka.

Menghadapi mantan Juara K-1 Hiromi Wajima, sang Juara Dunia ONE Bantamweight Muay Thai membuktikan bahwa memiliki postur tinggi menjulang saja tidak cukup jika tak bisa memanfaatkannya. Setiap serangan dari jarak jauh terasa akurat dan menyulitkan Wajima untuk membalas.

Bahkan, dengan kemenangan dominannya, Anane seperti masih jauh dari potensi terbaiknya. Di usia yang baru menginjak 21 tahun, dengan tinggi 194 cm, serta sembilan laga tak terkalahkan di organisasi seni bela diri terbesar di dunia, Anane masih akan terus berkembang.

Beberapa petarung perlu waktu untuk beradaptasi antara Muay Thai dan kickboxing. Sementara Anane melaju mulus seperti tak menyadari ada perbedaan dalam dua olahraga ini.

Selengkapnya di Fitur

Jonathan Di Bella Prajanchai PK Saenchai ONE Fight Night 36 16 scaled
Diogo Reis Daiki Yonekura ONE Fight Night 38 15 scaled
Nadaka Numsurin Chor Ketwina ONE 173 18 scaled
Yuya Wakamatsu Joshua Pacio ONE 173 22 scaled
Team Mongolia in Physical Asia
Yuki Yoza Superlek ONE 173 18 scaled
Numsurin Chor Ketwina Paeyim Sor Boonmeerit ONE Friday Fights 113 33 scaled
Stamp Fairtex Ham Seo Hee ONE Fight Night 14 2 scaled
RodtangSon
Stella Hemetsberger Chellina Chirino ONE Friday Fights 82 33
Rungrawee Sitsongpeenong George Jarvis ONE Friday Fights 85 6 scaled
Ekaterina Vandaryeva Martyna Kierczynska ONE Fight Night 20 38 scaled