‘Peperangan Lima Ronde Penuh’ – Regian Eersel Ulas Duel Perebutan Gelar Dunia Melawan Rungrawee Di The Inner Circle, 10 April
Regian “The Immortal” Eersel kembali bersiap untuk momen penting dalam perjalanan kariernya di puncak ONE Championship.
Sang juara dunia 10 kali dijadwalkan menghadapi striker Thailand, Rungrawee “Legatron” Sitsongpeenong, dalam perebutan Gelar Dunia ONE Lightweight Kickboxing yang lowong. Duel akbar ini akan menjadi laga utama The Inner Circle pada Jumat, 10 April, yang berlangsung pada jam tayang utama Asia dari Lumpinee Stadium, Bangkok.
Ajang eksklusif ini dapat disaksikan oleh member melalui live.onefc.com.
Kini, pemegang sabuk ONE Lightweight Muay Thai itu memiliki peluang emas untuk kembali menegaskan statusnya sebagai raja dua disiplin.
Petarung 33 tahun asal Sityodtong Amsterdam ini dikenal lewat presisi tinggi, daya tahan luar biasa, serta tekanan tanpa henti yang kerap membuat lawan kewalahan hingga ronde akhir.
Namun kali ini, ia menghadapi tantangan gaya bertarung yang berbeda. Rungrawee hadir sebagai petarung kidal dengan reputasi global berkat arsenal tendangan kerasnya.
Eersel mengatakan:
“Saya mengantisipasi semuanya. Tendangan kaki, calf kick, tendangan ke kaki kanan saya karena dia kidal, tendangan ke bagian dalam kaki. Jadi saya mempersiapkan segalanya.
“Saya rasa dia akan banyak menendang. Kombinasinya juga akan variatif—satu pukulan satu tendangan, dua pukulan satu tendangan, atau dua tendangan.”
Gaya “Legatron” dibangun dari tendangan yang menyakitkan, kombinasi tajam, serta kemampuan mengganggu ritme lawan. Dalam penampilan terakhirnya di ONE Fight Night 34, ia tampil dominan selama tiga ronde dan meraih kemenangan mutlak atas Youssef Assouik.
Menghadapi duel yang diprediksi berlangsung teknis dan penuh taktik, Eersel memahami pentingnya keseimbangan antara pertahanan dan tekanan ofensif. Bagi petarung yang terbiasa tampil dalam tempo tinggi, kunci utama terletak pada penguasaan jarak dan kemampuan mendikte ritme.
“The Immortal” menambahkan:
“Dari sisi saya, saya harus bergerak, menghindari tendangan, melakukan counter, dan juga menyerang. Jadi ini akan jadi laga yang sangat teknis sekaligus keras. Kalau sampai lima ronde, pasti saya akan menerima beberapa tendangan.
“Tapi bukan berarti saya akan menerima semuanya. Seperti saat melawan [George] Jarvis, saya menerima tendangan kiri lalu langsung membalas. Jadi kita lihat nanti.”
Dalam laga terakhirnya pada Agustus lalu, Eersel mempertahankan sabuk ONE Lightweight Muay Thai dengan penampilan dominan melawan George Jarvis. Ia hanya membutuhkan kurang dari 90 detik untuk menjatuhkan lawannya dua kali sebelum menutup laga lewat knockout di ronde pertama.
Naluri tajam itu mencerminkan mentalitasnya yang tak pernah goyah sepanjang dominasinya di divisi lightweight. Terlepas dari siapa lawannya, ia selalu mempersiapkan diri untuk skenario paling berat.
Eersel menjelaskan:
“Dalam pikiran saya, saya selalu menganggap pertarungan akan berjalan lima ronde. Selalu. Saya tidak pernah berpikir akan menang di ronde pertama atau kedua.
“Kalau ada peluang, tentu saya akan ambil. Tapi saya tidak mengharapkan knockout. Saya mengharapkan pertarungan lima ronde penuh, pertarungan teknis antara saya dan Rungrawee.”
Eersel Emban Misi Mengambil Kembali Sabuk Yang Tak Pernah Hilang
Bagi Regian Eersel, duel melawan Rungrawee bukan sekadar perebutan sabuk. Ini adalah misi pribadi untuk merebut kembali gelar yang menjadi awal dari dominasinya di ONE Championship.
Ia pertama kali meraih sabuk lightweight kickboxing pada 2019 – gelar yang memiliki makna mendalam dalam kariernya.
Petarung 33 tahun itu mengatakan:
“Saya berharap bisa mendapatkan kembali ‘bayi’ saya, gelar pertama saya di ONE Championship. Saya memenangkannya pada 2019. Jadi di 2026 ini, saya ingin merebutnya kembali dan menjadi juara dua disiplin lagi.
“Gelar itu sangat spesial. Itu adalah gelar pertama saya, dan juga yang paling lama saya pegang.”
Masa kekuasaannya di kickboxing berakhir dengan cara yang tidak biasa.
Meski berhasil mengalahkan Alexis Nicolas dalam trilogi mereka di ONE Fight Night 30, Eersel kehilangan sabuknya karena gagal memenuhi batas berat badan saat kondisi terhidrasi. Sebuah akhir yang pahit bagi masa kejayaan yang nyaris sempurna.
Kini, dengan sabuk yang kembali lowong, jalan terbuka bagi Eersel untuk merebut kembali apa yang ia yakini tidak pernah benar-benar hilang.
Terlepas dari segudang prestasi yang dimilikinya, Eersel merasa masih sering diremehkan.
Dengan postur setinggi 189 sentimeter dan tubuh yang terlihat ramping, ia kerap tidak dianggap sebagai petarung dengan daya hancur besar. Namun anggapan itu selalu berubah begitu laga dimulai.
Eersel menutup:
“Saya rasa banyak petarung yang sedikit meremehkan saya. Mereka melihat saya tinggi dan kurus, lalu berpikir saya tidak punya pukulan atau tendangan keras. Tapi begitu mereka merasakannya, saya bisa melihat ekspresi mereka berubah.
“Pertarungan ini akan sangat eksplosif, dan kalian akan melihat saya merebut kembali gelar kickboxing saya. Lalu saya akan bilang: sang raja telah kembali.”