Marat Grigorian Dan Kaito Siap Tuntaskan Rivalitas Dalam Duel Featherweight Kickboxing Di ONE Samurai 1
Urusan yang belum selesai akhirnya akan menemukan titik akhir saat ikon Armenia Marat Grigorian dan petarung Jepang Kaito bertemu dalam duel featherweight kickboxing tiga ronde di ONE Samurai 1.
Pertarungan yang telah lama dinantikan ini akan digelar pada 29 April di Ariake Arena, Tokyo – panggung bagi seri blockbuster bulanan terbaru ONE Championship di Jepang.
Laga ini menjadi bagian dari kartu pertandingan yang menghadirkan tiga duel perebutan Gelar Dunia, dengan dipuncaki rematch impian antara Rodtang “The Iron Man” Jitmuangnon dan Takeru “Natural Born Krusher” Segawa untuk memperebutkan Gelar Dunia Interim ONE Flyweight Kickboxing.
Namun jauh sebelum bel utama berbunyi, duel antara Grigorian dan Kaito sudah membawa drama dan rivalitas yang cukup untuk mencuri perhatian.
Keduanya sejatinya dijadwalkan bertemu di ONE 172 tahun lalu – sebuah laga yang telah lama dinanti para penggemar kickboxing.
Segalanya telah siap hingga hari timbang badan dan tes hidrasi mengubah situasi. Grigorian gagal memenuhi batas featherweight dengan selisih kurang dari setengah kilogram, dan meskipun timnya menawarkan pertarungan catchweight serta kompensasi sebagian bayaran, Kaito menolak untuk bertanding.
Kecewa dengan kegagalan Grigorian memenuhi batas berat badan, Kaito memilih mundur, dan pertarungan pun dibatalkan.
Dampaknya langsung terasa. Grigorian meluapkan kekecewaannya di media sosial, menuduh Kaito tidak memiliki mentalitas petarung Jepang sejati dan bahkan menyarankan agar ia beralih ke olahraga tenis. Kaito tetap pada pendiriannya, menegaskan bahwa prestasi Grigorian layak dihormati, namun tidak dengan tindakannya.
Sejak saat itu, keduanya menempuh jalan berbeda.
Sebagai penantang dua kali Gelar Dunia ONE Featherweight Kickboxing dengan rekor 69-14 dan enam kemenangan di organisasi seni bela diri terbesar di dunia, Grigorian tidak berlama-lama terlarut. Petarung asal Hemmers Gym itu melampiaskan frustrasinya saat menghadapi bintang Jepang Rukiya “Demolition Man” Anpo di ONE 173 pada November lalu.
Meski sempat mendapat tekanan di awal dari debutan yang agresif tersebut, juara dunia Glory Kickboxing tiga kali itu menemukan ritmenya dan mendominasi lewat tekanan maju serta kombinasi pukulan tanpa henti untuk meraih kemenangan keputusan mutlak.
Kemenangan tersebut kembali menyalakan ambisinya untuk trilogi melawan Juara Dunia ONE Featherweight Kickboxing Superbon. Namun sebelum itu, veteran berusia 34 tahun tersebut harus menyelesaikan satu rivalitas lama.
Perjalanan Kaito justru lebih terjal. Petarung Team F.O.D. itu akhirnya menjalani debutnya di ONE saat menghadapi Mohammad Siasarani di ONE Friday Fights 109 pada Mei lalu. Sang petarung Iran datang dengan membawa 59 kemenangan profesional, termasuk atas mantan Juara Dunia Interim ONE Featherweight Kickboxing Masaaki Noiri.
Namun ia kesulitan menemukan ritme menghadapi tekanan dan volume serangan petarung Iran tersebut. Meski sempat bangkit di ronde ketiga, hal itu dirasa terlambat. Siasarani keluar sebagai pemenang lewat keputusan mutlak, meninggalkan Kaito dengan banyak hal yang harus dibuktikan di salah satu divisi paling kompetitif dalam olahraga tarung.
Dengan tekad menebus kekalahan, tak ada lawan yang lebih tepat daripada salah satu kickboxer paling berprestasi di dunia.
Pada 29 April nanti, Ariake Arena akan menjadi panggung sempurna untuk menuntaskan rivalitas ini. Saat ONE Championship membawa kembali kejayaan olahraga tarung ke Jepang melalui seri ONE Samurai, Grigorian dan Kaito akhirnya akan memberikan jawaban yang telah lama ditunggu para penggemar.
On April 29, the Ariake Arena delivers the perfect stage to settle this dispute. As the world’s largest martial arts organization brings combat sports glory back to Japan through the ONE Samurai series, Grigorian and Kaito will finally give fans the resolution they deserve.