Fitur

5 Pelajaran Terbesar Dari ONE 157: Petchmorakot Vs. Vienot

ONE 157: Petchmorakot vs. Vienot memberi aksi bela diri tanpa henti pada Jumat, 20 Mei, dari Singapore Indoor Stadium.

Dua laga Kejuaraan Dunia ONE Muay Thai yang sangat luar biasa memberi kegemparan bagi ajang ini, dan babak perempat final ONE Flyweight Muay Thai World Grand Prix pun dimulai.

Namun, para penonton yang menyaksikan dapat melihat lebih dari sekadar aksi Muay Thai. Berbagai laga bela diri campuran, kickboxing dan submission grappling juga menarik perhatian dari para penggemar ONE di seluruh dunia.

Setelah satu malam penuh aksi lainnya di Singapura, berikut adalah lima pelajaran terbesar dari ONE 157.

#1 Petchmorakot Temukan Tandingannya

Sejak Desember 2018, Petchmorakot Petchyindee nampak tak terhentikan di ONE Super Series Muay Thai, dimana ia mencetak kemenangan atas Liam “Hitman” Harrison, sang legenda “The Boxing Computer” Yodsanklai IWE Fairtex dan Magnus “Crazy Viking” Andersson.

Tetapi, semua itu berubah di ONE 157, saat intensitas Petchmorakot ditandingi oleh Jimmy “JV01” Vienot, dimana ia hampir saja mengalahkan pria Thailand itu demi gelar Juara Dunia ONE Featherweight Muay Thai.

Vienot memulai dengan baik saat melawan bintang Petchyindee itu, tetapi Petchmorakot kembali bangkit pada ronde ketiga dan keempat. Faktanya, pada kanto keempat, Petchmorakot mendaratkan hook kanan keras yang menjatuhkan pria Prancis itu ke atas kanvas.

Walau “JV01” menjawab delapan hitungan, kesan terakhir itu mampu memukau para juri, dimana dua di antaranya memberi kemenangan terbelah, atau split decision, bagi sang penguasa.

Sementara laga ulang belum tentu terjadi bagi sang penantang, namun kemampuannya untuk mendesak Petchmorakot mencapai batasan telah menunjukkan pada dunia bahwa seorang petarung kuat lainnya telah tiba di skena featherweight Muay Thai – dan ia hampir sebanding dengan sang Juara Dunia.

#2 Keyakinan Diri Beri Kejayaan

Mantra “tidak pernah menyerah” mungkin nampak seperti hanya kata-kata bagi banyak orang, tetapi Joseph “The Hurricane” Lasiri menjadi contoh terbesar tentang mengapa tak ada yang boleh menyerah saat banyak hal tidak berjalan dengan baik.

Atlet keturunan Italia-Maroko memulai karier ONE dengan empat kekalahan beruntun. Lima laga kemudian di atas panggung dunia, ia pun menjadi Juara Dunia ONE Strawweight Muay Thai yang baru.

Dari awal laga, Lasiri mengungguli Prajanchai PK.Saenchai.

Setelah tiga ronde keras penuh serangan Muay Thai dari Lasiri, sang Juara Dunia berkata pada wasit bahwa ia tak lagi dapat melanjutkan laga pada ronde keempat.

Kisah Lasiri tak hanya menjadi sangat inspirasional; itu adalah pengingat bahwa semua orang yang berjuang mengatasi kesulitan harus terus bekerja keras karena itu biasanya terbayar. Terkadang, itu bahkan terbayar dengan sabuk emas.

#3 Grand Prix Tampilkan Atlet Flyweight Terbaik

Babak semifinal ONE Flyweight Muay Thai World Grand Prix akan dimulai setelah aksi perempat final yang dominan dari empat striker elite divisi ini.

Di kartu awal, Savvas “The Baby Face Killer” Michael dan penantang peringkat kedua Superlek “The Kicking Machine” Kiatmoo9 meraih kemenangan mutlak melawan Amir Naseri dan penantang peringkat keempat flyweight kickboxing Taiki “Silent Sniper” Naito.

Saat kartu utama dimulai, kickboxer peringkat ketiga flyweight Walter Goncalves mencetak satu-satunya KO di babak perempat final itu, dimana ia menjatuhkan Josue “Tuzo” Cruz dengan serangan tubuh yang keras dan sepasang serangan lutut pada menit 0:35 ronde pertama.

Juara Dunia ONE Flyweight Muay Thai Rodtang “The Iron Man” Jitmuangnon melanjutkan dengan penampilan paling dominan atas Jacob Smith.

Empat hasil mengejutkan ini jelas akan merujuk pada laga semifinal antara para petarung flyweight teratas pada tahun 2022 ini.

#4 Generasi Baru Tiba Dalam Grappling

Laga lightweight submission grappling antara Tye Ruotolo dan Garry “The Lion Killer” Tonon dinilai sebagai peperangan antar generasi. Dan, dalam waktu kurang dari dua menit, semua pihak mengetahui bahwa generasi berikutnya telah tiba dalam disiplin ini.

Ruotolo mengejutkan Tonon dengan D’Arce choke licin pada menit 1:37 ronde pertama, dan dalam prosesnya meraih salah satu dari empat bonus penampilan US$50.000 di ONE 157.

Sebelumnya, Kade Ruotolo mengalahkan Shinya “Tobikan Judan” Aoki via kemenangan mutlak setelah menyerang dengan berbagai percobaan submission dan menggunakan dinding Circle untuk merebut punggung sang legenda asal Jepang itu.

Generasi grappler baru ini, seperti Ruotolos dan Mikey “Darth Rigatoni” Musumeci, membuktikan bahwa disiplin itu juga semenarik MMA. Jelas, para grappler muda ini akan terus bersinar di panggung dunia selama bertahun-tahun.

#5 Wondergirl Memang Luar Biasa

Nat “Wondergirl” Jaroonsak mencetak debut bela diri campurannya melawan Zeba “Fighting Queen” Bano dan memberi peringatan untuk divisi strawweight.

Atlet sensasional Thailand itu menunjukkan bahwa ia lebih dari hanya sekadar seorang striker saat ia mengamankan armbar pada menit 1:22 ronde pertama.

Tetapi, hasil itu memang tidak seimpresif cara Wondergirl dengan mulus bergerak mengelilingi Circle. Teknik footwork, transisi dan cara eksekusi sempurnanya menunjukkan mengapa dirinya menjadi salah satu bakat termuda paling bersinar di dunia.

Wanita berusia 23 tahun ini menampilkan pada para penggemar di seluruh dunia seberapa cepat ia beradaptasi ke dalam MMA. Dengan lebih banyak ruang untuk bertumbuh, Wondergirl memiliki potensi yang jelas tidak terbatas.

Ikuti perkembangannya

Bawa ONE Championship kemana pun anda pergi! Daftarkan diri untuk mendapatkan akses ke berita terbaru, berbagai tawaran spesial dan kursi terbaik dalam gelaran langsung kami.
Dengan mengirimkan formulir ini, anda menyetujui pengumpulan, penggunaan dan pembukaan informasi anda berdasarkan Privacy Policy kami. Anda dapat membatalkan (unsubscribe) dari jenis komunikasi ini kapan saja.