Dari Tasikmalaya Ke Lumpinee: Delfan ‘Kancil’ Dwi Satrio Bawa Mimpi Ayah ke Panggung ONE Championship

Delfan Dwi Satrio

Delfan Dwi Satrio tidak bisa menyembunyikan campuran perasaan yang bergejolak menjelang debutnya di ONE Friday Fights 149, Jumat (3/4/2026), di Lumpinee Stadium, Bangkok.

Malam ini, pemuda 22 tahun asal Tasikmalaya itu akan berdiri di atas ring yang sama dengan para petarung terbaik dunia, menghadapi Blackshisha Sotaro dari Jepang dalam laga atomweight kickboxing.

Bagi banyak orang, Lumpinee dikenal sebagai arena legendaris dalam “seni delapan tungkai.”

Bagi Delfan, ini adalah tempat suci bela diri, arena yang telah melahirkan para Juara Dunia ONE Championship dan menjadi tujuan setiap petarung yang serius mengejar karier di level tertinggi.

Delfan mengatakan:

“Campur aduk. Pastinya senang, karena ONE Championship adalah mimpi dan tujuan dari petarung seperti saya.

“Saya telah berlatih dan bertarung di event-event amatir bertahun-tahun. Sekarang saatnya naik level dan membuktikan diri di ajang yang lebih tinggi.”

Persiapannya untuk malam ini tidak main-main.

Bersama tim pelatih di O Sansuk Muay Thai Gym di Pattaya, Thailand, Delfan sudah membedah gaya bertarung Blackshisha secara menyeluruh.

Hasilnya adalah game plan yang matang dan terperinci, dengan strategi counter attack sebagai tulang punggung pendekatannya.

Jagoan berusia 22 tahun ini mengungkapkan:

“Saya dan pelatih sudah pelajari kelemahan lawan, dan strategi saya besok lebih ke serangan balik, khususnya pukulan dan lutut. Saya akan fokus ke timing, tetap tenang, dan memanfaatkan setiap celah saat dia menyerang.”

Sotaro bukan lawan yang bisa diremehkan.

Petarung 26 tahun dari Team Teppen ini membawa empat kemenangan dari Jepang ke debut internasionalnya, dan malam ini dia datang dengan motivasi besar untuk membuktikan diri di panggung yang jauh lebih besar dari yang pernah dia rasakan sebelumnya.

Tapi Delfan juga datang dengan sesuatu yang tidak kalah berat. Rekor sempurna 5-0 dan kepercayaan diri seorang petarung yang tahu betul kemampuannya.

Malam ini juga menandai transisinya dari Muay Thai ke kickboxing, sebuah perpindahan disiplin yang sudah dia siapkan dengan sejumlah penyesuaian teknis.

Namun satu hal yang tidak berubah adalah prinsip dasarnya di atas ring:

“Ketenangan menjadi kunci utama bagi saya, karena teknik yang diberikan oleh pelatih sudah sangat baik dan saya yakin itu cukup untuk menghadapi Blackshisha.

Tinggal bagaimana saya mengeksekusinya di atas ring. Saya harus tetap tenang agar semua teknik yang sudah dipelajari bisa keluar dengan maksimal dan sesuai dengan game plan.”

Ambisinya tidak berhenti di satu malam. Jauh melampaui laga ini, Delfan sudah punya gambaran jelas tentang ke mana dia ingin pergi.

Baginya, sebuah kemenangan akan bermakna penting sebagai langkah pertama dalam perjuangannya meraih kontrak sebagai atlet utama ONE Championship yang bernilai US$100.000 (Rp1,7 miliar).

Delfan mengatakan:

“Bisa mempersembahkan pertandingan yang menarik, bisa mengalahkan lawan dengan cara istimewa. Bisa terus bermain dan berkarir di ONE Championship seperti petarung-petarung besar senior di ONE.”

Julukan ‘Kancil’ Dan Warisan Sang Ayah

Di balik nama panggung yang melekat erat pada dirinya, tersimpan sebuah kisah yang jauh lebih dalam dari sekadar julukan.

“Kancil” bukan nama yang Delfan Dwi Satrio pilih sendiri.

Nama itu adalah pemberian dari almarhum ayahnya, sebuah hadiah yang lahir dari rasa bangga seorang ayah menyaksikan putranya bertarung untuk pertama kali:

“Waktu pertama kali saya bertanding, dia melihat gaya bertanding saya yang lincah, cepat, dan cukup cerdik di atas ring. Dari situ beliau menyebut saya seperti kancil.”

Dalam cerita rakyat Indonesia, kancil adalah simbol kecerdikan dan kelincahan. Hewan kecil ini selalu menemukan jalan keluar dari situasi yang tampaknya mustahil. Itulah yang dilihat sang ayah dalam diri putranya sejak hari pertama.

Sejak saat itu, nama “Kancil” melekat dan tidak pernah lepas. Perjalanan Delfan ke dunia bela diri pun dimulai dari tangan sang ayah.

Saat masih duduk di Sekolah Dasar, sang ayah melihat energi berlebih dalam diri Delfan yang kala itu diakuinya cukup nakal. Alih-alih membiarkan energi itu terbuang sia-sia, sang ayah mengarahkannya ke bela diri. Keputusan itu mengubah segalanya.

Dari satu pertarungan ke pertarungan berikutnya, dari event lokal ke event nasional, sang ayah selalu ada di sisi ring, menjadi suara paling keras dan pelukan paling hangat setiap kali bel berbunyi.

Adik kandung Redho Rocky ini mengakui betapa besarnya peran sang ayah dalam membentuk dirinya sebagai petarung.

Delfan menuturkan:

“Peran ayah saya sangat besar dalam perjalanan karier saya. Dulu saat saya masih bertanding di event lokal maupun nasional, beliau selalu mendampingi saya di setiap pertarungan.”

Namun kini, di momen terbesar dalam hidupnya, kursi itu kosong.

Sang ayah telah berpulang sebelum sempat menyaksikan putranya berdiri di bawah sorot lampu Lumpinee Stadium, di atas ring ONE Championship yang selama ini hanya ada dalam mimpi mereka berdua.

Tapi Delfan tidak membiarkan kesedihan itu memadamkan semangatnya. Justru sebaliknya:

“Tapi saya yakin, ini adalah bagian dari cita-cita beliau mendidik saya menjadi seorang fighter yang berbakat dan bisa go international. Dan itu yang sekarang sedang saya perjuangkan.”

Selengkapnya di Berita

KaotaemFairtex XavierGonzalez 1920X1280 Faceoff
Delfan Dwi Satrio
Denkriangkrai Singha Mawynn Tomyamkoong Bhumjaithai ONE Friday Fights 97 22 scaled
nadakasong
Yuki Yoza Superlek ONE 173 24 scaled
miurasawada
Kongchai Merhdad 1920X1280 Faceoffs scaled
Jordan Estupinan vs. Aslamjon Ortikov scaled
Chase Mann And Dzhabir Dzhabrailov scaled
Sam A Gaiyanghadao vs. Elmehdi El Jamari scaled
Hyu vs Taiki Naito ONE Samurai 1
Asadula Imangazaliev Nong O Hama ONE Friday Fights 147 7 scaled