Puasa, Bertarung, Dan Pengorbanan: Kisah Persiapan Nabil Anane Menjaga Gelar Dunia Pertamanya Saat Ramadan

Nabil Anane Open Workout 7

Bagi sebagian besar atlet, persiapan untuk mempertahankan Gelar Dunia menuntut komitmen fisik penuh. Namun bagi Juara Dunia ONE Bantamweight Muay Thai Nabil Anane, pemusatan latihannya kali ini datang dengan ujian disiplin tambahan.

Petarung berusia 21 tahun itu akan mempertahankan sabuknya melawan penantang yang sedang naik daun, Rambolek Chor Ajalaboon di Superfan Fights yang berlangsung di Lumpinee Stadium, Bangkok, pada 20 Maret. Menariknya, ia menjalani persiapan tersebut sambil menjalankan ibadah Ramadan – bulan suci di mana umat Muslim berpuasa dari matahari terbit hingga terbenam.

Alih-alih menjadi hambatan, momen ini justru menambah dimensi baru dalam persiapannya.

Anane mengatakan:

“Kalau saya ingin bertarung, saya akan bertarung. Kalau tidak, saya tidak akan bertarung, dan ini bukan kewajiban. Karena sudah hampir satu tahun saya tidak bertanding Muay Thai, saya memang ingin kembali sekarang.”

Laga ini datang di saat Anane memang ingin kembali fokus ke Muay Thai.

Sepanjang 2025, ia tampil empat kali di berbagai disiplin striking, dengan dua penampilan terakhirnya terjadi di kickboxing. Namun setelah berbulan-bulan bertarung di aturan tersebut, petarung dengan tinggi 193 cm itu rindu kembali ke olahraga yang membesarkan namanya di ONE Championship.

Berlatih selama Ramadan tentu membutuhkan penyesuaian, terutama dalam menyeimbangkan puasa dengan intensitas latihan.

Di Team Mehdi Zatout di Pattaya, Thailand, Anane memindahkan sebagian besar sesi latihannya ke malam hari. Pola ini memungkinkannya tetap menjaga intensitas tanpa mengganggu jadwal puasa.

Ia menjelaskan:

“Kami latihan sore sebelum Maghrib. Lalu setelah berbuka, kami istirahat sebentar dan latihan lagi sekitar jam 11 malam atau tengah malam sampai jam 2 pagi.

“Pas waktunya berbuka, saya hanya minum air dan makan kurma, lalu lanjut latihan.”

Anane sendiri sudah membuktikan bahwa ia mampu menyeimbangkan Ramadan dengan performa elite.

Saat menghadapi legenda pound-for-pound “The Kicking Machine” Superlek di ONE 172 pada Maret 2025, ia juga menjalani pemusatan latihan di bulan puasa.

Meski dalam kondisi tersebut, ia justru meraih kemenangan terbesar dalam kariernya, mencetak knockdown di ronde pertama sebelum menang mutlak.

Kini, ia ingin mengulang formula tersebut dalam pertahanan gelar perdananya.

Dalam praktiknya, momen berbuka puasa kadang terjadi di tengah sesi latihan, sementara waktu pemulihan bergeser ke siang hari setelah latihan malam selesai.

Anane menambahkan:

“Saya juga mengubah jadwal tidur. Setelah makan terakhir, saya tidur dan bangun lebih siang. Rasanya seperti hari biasa. Sekarang sudah terbiasa karena saya sudah beradaptasi.

“Semuanya soal makan dan latihan secara konsisten. Kalau makan terlalu sedikit, kita tidak punya tenaga untuk latihan.”

Sisi Sunyi Di Balik Latihan Seorang Juara Dunia

Meski penyesuaian fisik menjadi tantangan tersendiri, Anane mengakui bahwa sisi mental dari pemusatan latihan tak kalah berat.

Menjadi petarung profesional menuntut pengorbanan besar di luar ring. Kamp latihan panjang, rutinitas ketat, dan fokus tanpa henti sering kali membuat kehidupan terasa terisolasi.

Ia berkata:

“Dalam pekerjaan seperti ini, kita harus berkorban. Kita tidak bisa hidup seperti orang lain. Kadang terasa kesepian. Saya merasakannya sekarang.”

Selama Ramadan, rasa tersebut bisa semakin terasa. Saat sesi latihan berlangsung hingga larut malam, suasana gym menjadi lebih sunyi dan sepi.

Kadang, hanya suara pukulan ke pad yang menggema di tengah malam kota Pattaya.

Dan hal itu, sangat terasa dalam masa kepelatihan kali ini.

Di Team Mehdi Zatout, Anane sebenarnya dekat dengan beberapa rekan setimnya, termasuk Sinsamut “Aquaman” Klinmee dan PTT Apichart Farm, yang juga akan tampil di ONE Friday Fights 147.

Di luar gym, mereka biasa menghabiskan waktu bersama, membuat konten, atau bersantai. Namun karena jadwal Ramadan yang berbeda, banyak dari mereka sudah selesai latihan saat Anane baru memulai sesi malamnya.

Sang raja bantamweight menyatakan:

“Orang-orang yang dekat dengan saya tidak latihan bareng saya. Mereka sudah selesai lebih dulu. Di kamp ini, saya merasa sangat sendirian.”

Namun bagi petarung elite yang mengejar puncak, kesendirian memang menjadi bagian dari proses.

Jam latihan panjang, suasana sunyi, dan pengorbanan dari kehidupan normal adalah harga yang harus dibayar untuk mencapai kejayaan.

Bagi Anane, itu adalah realita yang sudah ia terima:

“Kalau ingin mengerti, kamu harus menjalaninya sendiri. Tidak bisa dijelaskan. Ini tidak seperti pekerjaan biasa. Ini sulit. Sangat sulit.”

Selengkapnya di Fitur

Nabil Anane Open Workout 7
Supergirl
Tye Ruotolo Shozo Isojima ONE 173 10 scaled
Enkh Orgil Baatarkhuu Fabricio Andrade ONE Fight Night 38 19 scaled
Japan's Ayaka Miura makes her way to the ring inside the Mall Of Asia Arena
Jackie Buntan vs Stella Hemetsberger 6 scaled
Jackie Buntan vs Stella Hemetsberger 14 scaled
shadownico
Adam Sor Dechapan Nahyan Mohammed ONE Friday Fights 107 49 scaled
Jonathan Di Bella Prajanchai PK Saenchai ONE Fight Night 36 16 scaled
Diogo Reis Daiki Yonekura ONE Fight Night 38 15 scaled
Nadaka Numsurin Chor Ketwina ONE 173 18 scaled