Fitur

Mengapa Than Le Ditakdirkan Menjadi Seniman Bela Diri

25 Apr 2019

Thanh Le telah menunggu kesempatan untuk membuktikan kemampuannya diatas panggung terbesar dalam dunia bela diri.

Atlet divisi featherweight berusia 33 tahun ini telah memukau para fans di Amerika sebagai seorang striker yang mempunyai banyak teknik menarik dan rekornya menjatuhkan lawan, tetapi ia menanti untuk unjuk gigi melawan yang terbaik di dalam dunia bela diri campuran.

Ia akan mendapatkan kesempatan itu sebagai salah satu atlet ONE Championship pada hari Jumat, 3 Mei nanti.

Pada ajang ONE: FOR HONOR, atlet keturunan Vietnam-Amerika ini akan tampil perdana melawan seorang atlet asal Rusia Yusup Saadulaev.

Sebelum pertandingannya di Istora Senayan, Jakarta, Indonesia, Thanh menjelaskan kenapa dia ditakdirkan untuk hidup dengan bela diri.

Usaha Keluarga

Ayah Thanh berimigrasi dari Vietnam dan bertemu ibunya di Kentucky, Texas. Thanh lahir di kota kecil bernama Owensboro, sebelum keluarganya pindah ke New Orleans, Louisiana, saat ia berusia lima tahun – ketika ayahnya dapat pekerjaan sebagai tukang pipa di sebuah kilang minyak.

Selain pekerjaannya, ayah Thanh adalah seorang praktisi taekwondo. Dia mulai berlatih saat berusia delapan tahun di negara asalnya. Pada akhirnya, ia membuka sekolah bela diri bernama Moon College Taekwondo, dimana dia masih mengajar sampai saat ini.

Ia menurunkan semua pengetahuannya kepada anak-anaknya saat mereka sudah siap – dimana hasilnya pun terlihat.

“Saya menghabiskan waktu kecil di dalam sekolah bela diri dan bepergian untuk bertanding,” kata Thanh.

“Kami memiliki keluarga yang baik dan sekolah bela diri, jadi saya senang bertumbuh dalam kondisi tersebut – menghindarkan saya dari masalah, menjauhkan saya dari hidup jalanan, dan melakukan hal-hal menyenangkan yang saya suka lakukan setiap hari.”

“Saya sangat senang dapat bertumbuh dalam lingkungan yang mendukung saya, dan dapat menunjukkan apa yang saya pelajari.”

Keputusan Mengejutkan

Walau Thanh tumbuh mempelajari taekwondo dengan saudaranya, dia tidak pernah mengira akan menggunakan kemampuannya demi mencari nafkah bagi keluarganya.

Ia terus berlatih dan mempertajam ilmunya selama masa mudanya, dimana semua yang dipelajarinya menjadi landasan untuk terjun ke dunia bela diri campuran setelah dia mengunjungi ajang lokal di Louisiana saat akhir minggu di usianya yang ke-26.

Saat itu, ia memiliki pekerjaan penuh waktu, tetapi tiba-tiba memutuskan untuk menjalani karir baru.

“Sebuah cerita yang gila,” sebut Thanh.

“Kita pergi dan menonton pertandingan lokal dan teman saya Carlos Vera berkata, ‘Ini terlihat menyenangkan, sepertinya patut dicoba.'”

“Jadi, kita berdua memutuskan untuk bertanding dalam dua atau tiga bulan kedepan. Kami tahu kami harus berlatih di bidang olah raga lain – tinju, jiu-jitsu, gulat dan lain sebagainya – tetapi kita bertanding tanpa seluruh latihan tambahan itu.”

“Kita hanya menggila dan memutuskan untuk melakukan itu, dimana hal ini pun menjadi kehidupan saya.”

Anda Tidak Tahu Apa Yang Anda Miliki Sampai Itu Hilang

Tujuh tahun sejak Thanh mendedikasikan hidupnya menjadi seorang atlet, ia harus melewati beberapa rintangan dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya.

Dalam kehidupan pribadinya, dia mengalami perceraian yang berat – yang menjadi semakin sulit karena ia memiliki seorang anak berusia 10 tahun. Tetapi, ia dan mantan istrinya masih bekerjasama untuk menunjang sang putra.

Dalam karirnya, ia harus mengatasi banyaknya cidera yang menganggunya selama bertahun-tahun, tetapi cidera terparah yang ia derita datang pada tahun 2014.

Dalam awal laga utama dalam ajang di Baton Rouge, Louisiana, dia tertinju pukulan yang mematahkan rahangnya di dua tempat. Entah bagaimana, dia dapat menahan rasa sakitnya dan menjatuhkan lawannya dalam ronde pertama, tetapi cidera yang di deritanya menyebabkan dia harus beristirahat selama setahun.

Tetapi, pada waktu ia memulihkan diri dan keluar dari pertandingan, ia menyadari bahwa seni bela diri campuran sudah menjadi lebih dari sekadar hobi. Ia ingin menjadikannya sebuah karir.

“Sulit untuk tidak dapat berlatih, tidak dapat berbicara, mengunci rahang anda, makan dengan sedotan, dan tidak dapat melakukan apa yang anda suka dalam kehidupan sehari-hari – apalagi jika anda memiliki hidup yang sibuk, penuh agenda dan gaya hidup yang aktif,” katanya.

“Sangat sulit, secara mental dan fisik, untuk duduk saja di sofa.”

“Mengingat kembali bagian hidup saya yang saya sangat suka, karena itu menunjukkan bahwa saya senang sekali dengan olahraga ini. Ini sebuah hal yang besar yang saya lewati dan saya menyadari bahwa inilah yang saya inginkan setiap hari.”

Meraih Puncak

Saat ia kembali bertanding, Thanh menjatuhkan empat lawannya secara beruntun dan memenangkan Kejuaraan LFA Featherweight, dimana hal ini membawanya pada kesempatan berlaga di ONE Championship.

Setelah berada di dalam organisasi bela diri terbesar di dunia, dirinya mengincar posisi puncak dalam olahraga ini – merebut gelar Juara Dunia ONE Featherweight.

“Saya pikir tidak ada gunanya menjadi petarung biasa dalam olahraga ini. Jika anda berpikir untuk dapat unggul, anda akan ingin menjadi yang terbaik,” katanya.

“Itulah inti dari seni bela diri – melihat potensi diri sendiri, menjadi seniman bela diri yang terbaik. Itu yang terpenting. Saya ingin melawan yang terbaik.”

Perwakilan 50/50 dan MidCity MMA ini mendapatkan keinginannya dengan melawan Yusup Saadulaev dalam laga debutnya. Di Jakarta, dalam ajang ONE: FOR HONOR, ia siap melawan pesaingnya asal Rusia dan menapaki jalur menuju perebutan gelar.

“Itu alasan saya masuk ke ONE. Saya ingin menguji kemampuan saya dan menjadi yang terbaik di dunia,” tambahnya.