‘Lirik Ini Adalah Kehidupan Nyata’ – Kisah Musik Rap Yang Mendewasakan Regian Eersel Sebagai Ikon Bela Diri
Regian “The Immortal” Eersel adalah seorang maestro ritme.
Di dalam ring, sang Juara Dunia ONE Lightweight Muay Thai mendikte pertempuran dengan tempo yang pelan namun penuh dentuman. Ia membongkar pertahanan lawan layaknya pisau bedah dengan presisi sempurna.
Lahir di Suriname dan besar di Belanda, petarung 33 tahun itu justru menemukan ritmenya dari nada musik jauh sebelum ia menjelma menjadi ikon bela diri kelas dunia.
Di laga utama The Inner Circle pada Jumat, 10 April di jam tayang utama Asia dari Lumpinee Stadium, Bangkok, Eersel akan menghadapi mesin striking Thailand, Rungrawee “Legatron” Sitsongpeenong, demi memperebutkan takhta ONE lightweight kickboxing yang tak bertuan.
Sebelum naik ke ring ONE Championship, “The Immortal” membongkar daftar lagu yang menempa mental baja dalam dirinya sejak usia belia.
Soundtrack Seorang Juara Dunia
Musik dan bela diri selalu memiliki keterkaitan yang tak terucapkan.
Bagi banyak petarung, playlist bukan sekadar hiburan. Dentingan nada serta lirik lagu adalah mitra yang menguatkan psikologi mereka. Sebuah alat untuk membangkitkan energi, meredam kebisingan, dan menyiapkan pikiran jelang pertempuran.
Eersel sendiri memiliki selera musik yang luas, beragam, dan sangat personal.
Namun lebih dari sekadar beat yang menghentak dan melodi yang melekat, ia terhubung paling dalam dengan pesan di balik musik tersebut. Hip-hop dan rap, khususnya, menjadi cermin dari pengalaman hidupnya, serta realitas keras yang dihadapi komunitas yang terpinggirkan.
Atlet asal Sityodtong Amsterdam ini mengungkapkan:
“Setiap hari selalu berbeda. Beberapa contohnya adalah Drake, Lil Baby, 21 Savage, Burna Boy, Biggie, Tupac, Omah Lay, Joeboy, LAX, Future, Bad Bunny.
“Saya menyukai liriknya. Tapi itu juga bagian dari tujuan saya. Lagu-lagu ini memberimu energi yang berbeda. Seringkali, lagu-lagu ini juga bercerita, dan terkadang saya merasa berada dalam cerita itu, atau mengerti bahwa orang-orang yang memiliki warna kulit yang sama denganku merasakan hal ini dalam kehidupan sehari-sehari.”
Sebagai anak imigran, Eersel kerap dianggap berbeda. Lirik yang terkandung dalam lagu yang ia dengar sering menjadi cara baginya dalam menjalani dan menikmati hidup.
Saat menjalani pemusatan latihan yang berat, Eersel kerap mendengarkan lagu rap untuk mencari inspirasi.
Narasi yang jujur dan apa adanya dari ikon rap era 90-an selaras dengan jiwa petarungnya. Namun di balik kisah tentang kerasnya perjuangan, ia juga menemukan dorongan untuk terus melangkah dan menaklukkan rintangan.
Ia menjelaskan:
“Saat butuh inspirasi, saya akan mendengarkan Tupac atau DMX. Mereka bicara soal diskriminasi. Mereka bicara tentang betapa tidak adilnya hidup sebagai orang kulit hitam di Amerika.
“Tapi di sisi lain, mereka juga mendorong kita untuk berbuat baik dan mengejar mimpi. Mereka bilang semuanya akan baik-baik saja. Walau tidak selalu, karena hidup memang keras.”
Pelajaran Dari Tuindorp Hustler Click
Jauh sebelum berdiri di panggung seni bela diri dunia, Eersel kecil mendapat pelajaran hidup dari grup rap Belanda, Tuindorp Hustler Click (THC).
Tumbuh dari jalanan Amsterdam, grup ini berisi para rapper dari latar belakang imigran yang menyuarakan realitas yang sering terabaikan.
Bagi seorang anak Suriname yang mencoba memahami dunia baru, lirik-lirik tanpa filter itu terasa nyata, dan menawarkan pelajaran jujur tentang identitas dan kehidupan.
Sang raja ONE lightweight Muay Thai mengenang:
“Saat berusia sekitar 11 atau 12 tahun, saya belum punya uang untuk beli CD. Orang tua saya yang membelikannya. Ada grup rap Belanda [THC]. Dulu anggotanya sekitar 15 orang, sekarang mungkin tinggal lima atau enam yang masih hidup. Tidak ada orang Belanda asli, semuanya imigran.
“Mereka nge-rap tentang kehidupan di Belanda, tentang bagaimana rasanya jadi orang asing di negeri ini.”
Lagu-lagu yang mereka ciptakan meninggalkan jejak mendalam dan jadi bahan renungan
“Wil Je Weten Hoe Het Voelt?” (Ingin Tahu Rasanya?) menggambarkan beban emosional menjadi ‘berbeda’ di tengah masyarakat.
Sementara “Je Bent Niet Alleen” (Kamu Tidak Sendiri) membawa pesan yang lebih tenang, bahwa dalam perjuangan, selalu ada kebersamaan. Lagu-lagu ini membantu Eersel memahami dinamika kehidupan serta membentuk identitasnya.
Meski liriknya keras dan penuh kata-kata kasar, ayah Eersel justru melihatnya sebagai pelajaran penting untuk mengarungi hidup. Bahkan, syair dari lagu-lagu ini terus membekas seiring bertumbuhnya Eersel menjadi pria dewasa.
Eersel berkata:
“Orang tua saya yang membelikan CD itu, dan kami mendengarkannya di mobil. Sebenarnya saya tidak boleh dengar karena ada kata-kata kasar, tapi ayah saya bilang, ‘Ini musik rap, dan saya ingin kamu dengar karena ini tentang kehidupan nyata. Kita ini orang asing. Kita punya paspor Belanda, tapi mereka tidak melihat kita seperti mereka. Jadi saya ingin kamu mendengarnya.’”
Percakapan dengan sang ayah di sepanjang jalan membentuk mentalitasnya. Meski awalnya terlalu berat bagi seorang bocah belia untuk mengerti tentang pahit getirnya perjuangan dalam hidup, perlahan Eersel mulai memahami seiring berjalannya waktu.
Musik membuka matanya terhadap realitas dunia serta mempersiapkannya menghadapi pertarungan, baik di dalam maupun di luar ring.
Bahkan sejak kecil, Eersel sudah terbiasa dengan perpisahan, termasuk dengan orang tuanya. Ia sempat ditinggal ayah dan ibunya yang merantau ke Belanda demi masa depan yang lebih baik. Di usia yang masih belita, Eersel harus tumbuh bersama kakek-neneknya di Suriname.
Pengalaman itu, dipadukan dengan lirik-lirik yang jujur, memberinya pemahaman awal tentang kerasnya hidup dan apa yang dibutuhkan untuk terus tetap bertahan.
“The Immortal” menyatakan:
“Itu berdampak besar, secara positif. Bahkan sejak kecil, itu membuka mata saya. Lirik-lirik ini adalah kehidupan nyata. Dan ketika saya besar, saya mengalami sendiri beberapa hal yang saya dengar di lagu-lagu itu. Mereka benar. Gila rasanya.”
Menempa ‘The Immortal’ Lewat Kesulitan
Perjalanan Eersel menuju puncak dunia bela diri dibangun di atas kesulitan yang sama seperti yang diceritakan dalam lagu-lagu itu.
Dengan cepat, ia menyadari bahwa dunia tidak selamanya berjalan adil. Bahkan menjadi ‘baik’ saja tidak akan pernah cukup. Ia harus selalu terlihat sempurna. Namun, dari situlah terbentuk mental baja.
Setiap bias dan diskriminasi justru menjadi bahan bakar bagi semangat kompetitifnya, sehingga membentuk etos kerja luar biasa yang menjadi ciri khasnya hari ini.
Ia menjelaskan:
“Hal ini membentuk saya jadi seperti sekarang. Tidak mudah. Orang tetap melihat saya sebagai orang asing. Dulu, saya harus bekerja dua kali lebih keras dibanding orang Belanda pada umumnya. Ada rasisme di sana-sini, tapi itu justru membuat saya lebih kuat.
“Kamu belajar sejak dini bagaimana hidup di Eropa. Itu membuatmu harus berjuang untuk segalanya. Itu membuat saya bekerja lebih keras dari siapa pun di sekitar saya. Kalau punya mimpi besar, tidak ada yang bisa membuatnya menjadi nyata bagimu. Kamu harus mewujudkannya sendiri.”
Mengatasi semua bentuk diskriminasi itu membutuhkan mental yang tak tergoyahkan. Alih-alih membiarkan penilaian orang lain menjatuhkannya, Eersel menjadikannya sebagai tameng dan batu loncatan.
Kini, “The Immortal” berdiri sebagai figur besar di dunia olahraga tarung.
Sebagai Juara Dunia ONE Lightweight Muay Thai, ia telah melampaui segala rintangan masa lalunya. Ia kini menjadi simbol harapan dan inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia yang melihat kisah mereka tercermin dalam perjalanannya.
Eersel memungkasi:
“Kamu bisa merasakannya. Cara orang melihatmu, dari hal-hal kecil saja. Mereka tidak selalu mengatakannya langsung, tapi kamu tahu. Warna kulitmu cokelat, dan orang memperlakukanmu berbeda dengan cara-cara sederhana sekalipun.
“Orang langsung akan menghakimimu. Mereka berasumsi tentang dirimu tanpa mengenalmu. Hal-hal kecil seperti itu yang membentuk dirimu.”